Sungai Penuh, lugasline.id – Langkah pemerintah dalam menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di pusat Kota Sungai Penuh tengah menjadi sorotan hangat. Di satu sisi, publik mengapresiasi upaya pembersihan ini demi estetika kota. Namun di sisi lain, muncul desakan kuat agar kebijakan penataan dilakukan secara adil dan menyeluruh, terutama menyangkut masalah parkir yang kian semrawut (07/03/2026).
Meski PKL mulai ditata, warga menilai persoalan parkir liar di bahu jalan masih menjadi “pekerjaan rumah” besar yang seolah luput dari perhatian. Kendaraan yang terparkir sembarangan hingga memakan badan jalan kerap memicu kemacetan parah di titik-titik vital, khususnya pada jam sibuk.
Bahkan, muncul kritik tajam mengenai julukan kota dengan parkir terhambur sekaligus termahal yang hingga kini terkesan diabaikan oleh pihak terkait.
“Kalau PKL ditertibkan itu memang bagus untuk keindahan kota. Tapi parkir liar juga harus ditindak. Karena sering membuat jalan jadi sempit dan macet, apalagi saat sore hari di bulan Ramadan,” ujar salah seorang warga.
Kondisi parkir yang tak beraturan ini paling kontras terlihat di area perdagangan dan pusat kuliner. Arus lalu lintas sering kali tersendat akibat kendaraan yang berhenti seenaknya. Fenomena ini memuncak saat menjelang berbuka puasa, ketika volume kendaraan meningkat drastis oleh warga yang berburu takjil.
Masyarakat mendesak instansi terkait agar tidak hanya “galak” kepada PKL, tetapi juga berani membenahi sistem parkir. Warga menginginkan solusi komprehensif agar kenyamanan di pusat kota benar-benar terasa secara merata.
“Kalau ingin kota benar-benar tertib dan nyaman, seharusnya semua persoalan ditangani secara adil. Jangan sampai hanya satu sisi yang ditertibkan,” ungkap warga lainnya.
Dengan penataan yang lebih terintegrasi, diharapkan wajah Kota Sungai Penuh tidak hanya tampak cantik di permukaan, tetapi juga fungsional dan nyaman bagi seluruh mobilitas masyarakatnya. (tim)






