Jalan Jambi–Mendalo Masuk Status Gagal, Azizul: Ini Krisis Keselamatan yang Tak Bisa Ditunda
Jambi, lugasline.id – Kawasan Mendalo kini disebut tak lagi sekadar titik kemacetan biasa. Kondisi lalu lintas di ruas Jalan Jambi–Mendalo dinilai telah masuk fase krisis, setelah data tahun 2026 menunjukkan lonjakan volume kendaraan jauh melampaui kapasitas jalan yang tersedia (26/04/2026).
“Kawasan Mendalo hari ini bukan lagi sekadar titik padat lalu lintas, tapi sudah masuk kategori KRISIS. Data tahun 2026 menunjukkan volume kendaraan pada jam sibuk mencapai ±3.500 smp/jam, sementara kapasitas jalan hanya 1.512 smp/jam. Artinya, beban jalan sudah lebih dari dua kali lipat dari kemampuan idealnya,” tegas Azizul.
Berdasarkan data tersebut, derajat kejenuhan atau V/C ratio tercatat sebesar 2,31, angka yang menempatkan ruas Jalan Jambi–Mendalo pada Level of Service (LOS) F, kategori terburuk dalam penilaian kinerja jalan. Status ini menandakan arus lalu lintas telah gagal berfungsi normal.
“Dengan derajat kejenuhan (V/C) sebesar 2,31 (>1), Jalan Jambi-Mendalo resmi berada pada Level of Service (LOS) F: kondisi gagal. Arus lalu lintas tidak stabil, kemacetan parah terjadi hampir sepanjang waktu, dan yang paling mengkhawatirkan tingkat keselamatan sangat rendah,” ujarnya.
Yang menjadi sorotan, ruas jalan tersebut berada di kawasan pendidikan yang setiap hari dipadati aktivitas mahasiswa dan warga. Namun di saat bersamaan, jalur itu juga dilintasi ribuan truk batu bara.
“Ironisnya, jalan ini berada di kawasan pendidikan. Mahasiswa dan masyarakat umum harus berbagi ruang dengan ribuan truk batu bara setiap hari. Jalan publik yang seharusnya aman justru dipaksa melayani kepentingan industri,” kata Azizul.
Ia menilai persoalan ini bukan lagi semata masalah teknis transportasi, melainkan cerminan ketimpangan kebijakan pemerintah daerah.
“Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah bentuk ketimpangan kebijakan. Keselamatan masyarakat seperti ditempatkan di urutan kedua,” tegasnya.
Azizul juga menyoroti lemahnya respons pemerintah daerah, khususnya kepala daerah, terhadap kondisi yang terus memburuk.
“Kondisi ini adalah bukti nyata kelalaian pemerintah daerah, khususnya Gubernur. Status ‘gagal’ (LOS F) bukan sekadar istilah, tapi alarm keras bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan transportasi,” ujarnya.
Menurutnya, solusi sudah sangat jelas dan tidak boleh kembali ditunda. Ia mendesak dua langkah utama segera direalisasikan, yakni pembangunan jalan khusus angkutan batu bara serta pelebaran Jalan Mendalo.
“Selama truk masih bercampur dengan kendaraan umum, risiko kecelakaan akan terus menghantui. Ini bukan lagi soal pilihan, tapi kebutuhan mendesak,” katanya.
Azizul pun menutup pernyataannya dengan pertanyaan tajam kepada para pengambil kebijakan.
“Kalau keselamatan hanya jadi slogan, lalu sebenarnya siapa yang sedang dilindungi? Berapa banyak nyawa lagi harus dikorbankan demi kelancaran industri?” pungkasnya. (tim)






