Petani Kumun Debai Pertanyakan Kualitas Pupuk Subsidi, Dinas Terkait Masih Bungkam

Oplus_131072

Sungai Penuh, lugasline.id – Keresahan kini tengah melanda sejumlah petani di Desa Pinggir Air, Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh. Mereka mengeluhkan kualitas pupuk bersubsidi yang diterima karena dinilai tidak sesuai dengan harapan dan standar biasanya (03/07/2026).

Kecurigaan ini bermula saat para petani berinisiatif melakukan uji coba sederhana terhadap lima sampel pupuk yang mereka miliki. Hasilnya justru membingungkan; karakteristik fisik pupuk tersebut berbeda-beda secara drastis. Ada butiran pupuk yang mengapung di permukaan air, ada yang langsung hancur dan melebur, namun ada pula yang justru mengendap keras di dasar wadah.

Ketidakonsistenan fisik ini memicu tanda tanya besar di kalangan petani mengenai keaslian dan mutu pupuk subsidi yang beredar saat ini. Bagaimanapun, kualitas pupuk memegang peran krusial yang berdampak langsung pada siklus tanam dan produktivitas hasil panen mereka.

“Satu jenis pupuk mengapung, ada yang langsung hancur saat dimasukkan ke air, dan ada pula yang mengendap. Kami jadi bingung mana yang bagus dan mana yang asli,” ujar salah seorang petani kepada Explore News, Kamis (2/7/2026).

Keluhan ini sebenarnya tidak tinggal diam. Para petani mengaku sudah melaporkan kejanggalan tersebut ke berbagai pihak, mulai dari kios resmi penyalur, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), hingga dinas terkait. Sayangnya, hingga tiga hari berselang, laporan tersebut bak angin lalu tanpa adanya tindak lanjut maupun pengecekan langsung di lapangan.

“Kami sudah menghubungi dinas, kios penjualan, dan PPL. Sampai sekarang belum ada yang turun melihat kondisi ini dan belum ada penjelasan kepada petani,” ungkapnya.

Mengingat pupuk adalah urat nadi bagi produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat, para petani mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan. Mereka berharap instansi berwenang bersedia mengambil sampel pupuk tersebut untuk diuji secara ilmiah melalui laboratorium agar kepastian mengenai kualitas dan keasliannya bisa terjawab secara transparan.

Kondisi di Desa Pinggir Air ini seolah menambah daftar panjang karut-marut pupuk bersubsidi di tanah air. Masalah yang berakar dari hulu ke hilir—mulai dari karut-marut distribusi hingga rendahnya kualitas produk—memang masih menjadi rapor merah. Bahkan, Ombudsman RI juga mencatat bahwa persoalan pupuk subsidi merupakan salah satu isu yang paling sering dikeluhkan oleh petani dan memerlukan pengawasan yang jauh lebih optimal.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi ataupun respons dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Sungai Penuh selaku pihak yang bertanggung jawab mengawasi tata niaga dan distribusi pupuk bersubsidi di wilayah tersebut. (fad)