Kerinci, lugasline.id – Dugaan penelantaran penumpang perempuan berinisial P oleh Travel Safamarwa akhirnya bergulir ke babak baru. Setelah pihak keluarga menyuarakan kekecewaannya, dua sopir travel yang membawa P memberikan kesaksian berbeda yang menampik kabar bahwa penumpang tersebut ditinggalkan begitu saja di tengah hujan.
Dilansir dari Media Bekabar.id, Jaka sopir pertama yang membawa P menjelaskan bahwa transit penumpang di Desa Pulau Sangkar sejatinya berjalan normal. Pemindahan dilakukan semata untuk efisiensi rute.
“Kerinci ini wilayahnya luas. Dari Pulau Sangkar, penumpang dibagi berdasarkan jalur: ada yang ke Air Hangat Timur, Sungai Penuh, dan Keliling Danau,” terang Jaka pada Kamis (23/7).
Perubahan Rute Mendadak
Menurut Jaka, P sejak awal menyatakan tujuan akhirnya adalah Sungai Tutung, Kecamatan Air Hangat Timur. Karena searah dengan jalurnya, P tidak dipindahkan ke mobil lain. Namun, masalah mulai timbul ketika P mendadak mengubah lokasi turun di tengah perjalanan.
“Di jalan dia mendadak bilang mau turun di Simpang Tiga Rawang. Akhirnya saya over ke mobil Yar yang memang mengarah ke sana. Kalau dari awal dia bilang mau ke Koto Lolo, tentu sudah kami seberangkan ke mobil yang jalurnya pas,” lanjut Jaka.
Sopir kedua, Yar, mengonfirmasi cerita tersebut. Ia menyebut P mengklaim akan dijemput oleh kakaknya di sekitar Simpang Tiga Rawang. Namun, keraguan kembali muncul saat kendaraan memasuki wilayah Tanah Kampung menuju Tanjung Rawang.
“Saat sampai di jembatan simpang Tanjung Rawang, saya tanya lagi posisi kakaknya. Tiba-tiba dia malah minta diantar ke Koto Lolo. Padahal itu sudah mutar dan beda jalur,” tutur Yar.
Yar sempat meminta P menunggu sebentar karena ia harus memprioritaskan penumpang lain. Namun, karena P bersikeras bahwa kakaknya sudah hampir tiba, Yar akhirnya memberhentikan mobil di dekat sebuah bengkel arah Pemancar Rawang.
“Kami Tidak Meninggalkannya Sendirian”
Yar membantah keras tuduhan telah menelantarkan P di tengah hujan. Ia mengklaim tetap mendampingi penumpang tersebut sampai penjemput datang.
“Kami berhenti di lokasi itu dan tidak langsung jalan. Kami menunggu sampai kakaknya tiba,” tegas Yar.
Situasi sempat memanas ketika penumpang lain mulai mendesak agar perjalanan segera dilanjutkan. Tegang dan tertekan oleh desakan penumpang lain, P disebut mulai menangis.
“Penumpang lain sudah mendesak ingin cepat sampai. Mungkin karena mendengar itu, P jadi menangis. Tapi kami tetap bertahan menunggu sampai kakaknya benar-benar datang. Setelah kakaknya tiba di lokasi, barulah kami lanjut mengantar penumpang tersisa,” jelas Yar membela diri.
Versi Keluarga Penumpang
Keterangan sopir ini bertolak belakang dengan pernyataan kakak P, Rifki Dermawan. Sebelumnya, Rifki melayangkan protes keras atas pelayanan Safamarwa.
Rifki menyebut adiknya diturunkan begitu saja di kawasan Rawang dalam kondisi hujan deras, padahal ia sudah meminta sopir untuk menunggu sebentar hingga dirinya tiba. Rifki juga mengaku sempat memohon agar adiknya diturunkan di Koto Lolo atau di depan minimarket terdekat agar bisa berteduh, namun permintaan itu diabaikan.
Catatan Evaluasi Pelayanan Publik
Insiden ini menjadi cermin besar bagi industri jasa transportasi antarkota di Kerinci dan sekitarnya. Terlepas dari kesimpangsiuran kronologi antara sopir dan penumpang, keselamatan, kenyamanan, serta kepastian rasa aman penumpang harus tetap menjadi prioritas utama.
Masyarakat berharap kasus ini menjadi evaluasi total bagi pengelola Travel Safamarwa dan penyedia jasa travel lainnya. Keluhan mengenai sopir yang kelelahan, memaksakan diri menyetir saat mengantuk, hingga gaya mengemudi ugal-ugalan masih kerap menjadi momok bagi para pengguna jasa. Komunikasi yang santun dan penanganan situasi darurat penumpang wanita di jalanan harus menjadi standar pelayanan standar (SOP) yang tak boleh ditawar lagi.






