lugasline.id-Transformasi besar pendidikan tinggi Indonesia kembali digaungkan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menilai bahwa perguruan tinggi di Indonesia tidak lagi bisa bertahan dengan model lama yang hanya menitikberatkan pada pengajaran.
Dalam Antara Business Forum, Rabu (12/11), Stella menegaskan bahwa Indonesia harus segera mempercepat transformasi menuju research university demi mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi berbasis sains.
“Di negara-negara yang berkembang sangat cepat, model universitas bukan hanya untuk mengajar. Bukan teaching university, tetapi research university. Tujuan utamanya: inovasi,” ujar Stella dikutip dari Antara.
Jejak Negara Maju yang Berhasil Berkat Kampus Berbasis Riset
Stella mencontohkan bagaimana lompatan ekonomi dan kekuatan teknologi di berbagai negara beriringan dengan evolusi kampus berbasis penelitian:
Jerman memulai pada 1810-an, dan menikmati hasilnya ketika menang dalam Perang Prusia pada 1870-an.
Amerika Serikat melakukan lompatan sejak 1940-an, hingga menjadi unggul di era Perang Dingin pada 1989.
China mulai pada 1980-an, dan kini menjelma menjadi raksasa industri dan teknologi pada 2020-an.
“Ini bukan opini, ini data. Transformasinya dimulai puluhan tahun sebelumnya. Hasilnya bisa kita lihat,” tegasnya.
Di China sendiri, klaster riset dan inovasi telah menyumbang 13,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)—sebuah bukti kuat bahwa riset bukan hanya wacana, tapi mesin penggerak ekonomi modern.
Riset Dorong Pertumbuhan PDB Hingga 0,9 Persen
Stella juga mengutip studi Fryman dan Balina (2016) yang menunjukkan dampak ekonomi nyata dari investasi riset:
0,2 persen peningkatan PDB dalam jangka pendek,
0,9 persen dalam jangka panjang.
“Kalau kita ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, maka riset harus jadi perhatian utama. Angkanya sudah membuktikan,” katanya.
Anggaran Riset Naik 218 Persen
Pemerintah disebut telah meningkatkan pendanaan riset secara signifikan:
dari Rp1,47 triliun menjadi Rp3,2 triliun—kenaikan 218 persen.
Langkah ini, menurut Stella, harus dikawal bersama oleh seluruh pemangku kepentingan: universitas, industri, lembaga riset, dan pemerintah.
Stella menutup dengan ajakan agar Indonesia membangun ekosistem riset yang solid demi menyiapkan negara melompat ke kelas ekonomi lebih tinggi.(*)






