Kolom  

Berorganisasi Bukan Pilihan

Karya: Muhammad Ardiansyah, Ketua PMII Rayon Syari’ah

Ada anggapan yang keliru tapi terus dipelihara di kalangan mahasiswa: bahwa berorganisasi adalah kegiatan sampingan, sesuatu yang boleh diikuti atau ditinggalkan sesuai selera.

 

Anggapan ini perlu dibongkar, Berorganisasi bukan pilihan ia adalah kebutuhan yang menentukan apakah seorang mahasiswa lulus sebagai sarjana yang hanya membawa ijazah, atau sebagai manusia yang siap menghadapi kompleksitas dunia nyata.

Kampus Tidak Mengajarkan Semuanya,

Ruang kelas hanya mengajarkan teori, tapi tidak mengajarkan bagaimana menyelesaikan konflik antar-anggota tim, bagaimana bernegosiasi atau bagaimana tetap tenang saat acara yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan nyaris gagal karena hal teknis di menit terakhir.

 

Semua itu hanya dipelajari lewat pengalaman langsung dan organisasi adalah laboratorium tempat pengalaman itu ditempa tanpa risiko yang membahayakan karier atau kehidupan seseorang.

Mahasiswa yang hanya kuliah-pulang-kuliah-pulang akan lulus dengan IPK tinggi tapi tanpa pernah diuji kepemimpinannya. Sebaliknya, mahasiswa yang berorganisasi belajar memimpin sebelum ia benar-benar dituntut memimpin.

Organisasi Adalah Bentuk Tanggung Jawab Sosial.

 

PMII, sebagai organisasi kaderisasi, tidak pernah dirancang sekadar sebagai wadah kumpul-kumpul. Ia lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa memiliki fungsi sosial: agent of change, social control, dan iron stock. Ketiga fungsi ini mustahil dijalankan oleh individu yang memilih diam di kamar kos dan menonton dari kejauhan. Perubahan sosial selalu lahir dari kolektivitas yang terorganisasi, bukan dari kebaikan hati yang tersebar tanpa arah.

Ketika seorang mahasiswa memilih untuk tidak berorganisasi, ia sebenarnya sedang menyerahkan ruang perannya kepada orang lain dan seringkali ruang itu diisi oleh mereka yang tidak memiliki keberpihakan yang sama terhadap nilai-nilai keadilan dan kerakyatan.

 

Menempa Diri Lewat Struktur

Ada nilai yang hanya bisa dipelajari lewat struktur organisasi: disiplin menghadiri rapat meski lelah, kesetiaan menjalankan amanah meski tidak diawasi, dan kerendahan hati menerima kritik dari junior maupun senior. Nilai-nilai ini adalah fondasi karakter yang jauh lebih tahan lama dibanding nilai akademik semata. Sejarah mencatat, banyak tokoh bangsa lahir bukan dari mereka yang paling pintar di kelas, melainkan dari mereka yang paling matang teruji di ruang organisasi.

 

Sebuah Keharusan, Bukan Formalitas

Berorganisasi bukan sekadar mengisi CV atau menambah relasi pertemanan. Ia adalah proses pembentukan diri yang tidak tergantikan oleh apa pun yang ditawarkan bangku kuliah semata. Bagi kader PMII Rayon Syari’ah, keterlibatan dalam organisasi harus dipahami sebagai keharusan eksistensial sebuah jalan yang wajib ditempuh jika ingin lulus sebagai manusia yang utuh, bukan hanya sebagai pemegang gelar akademik.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak absen di kelas atau paling rajin di perpustakaan. Sejarah mencatat mereka yang berani mengambil peran dan peran itu, hampir selalu, lahir dari ruang bernama organisasi. (*)