Kerinci, lugasline.id – Festival Kerinci Balik Kudahin kembali menggali ingatan masyarakat Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Saat prosesi adat berlangsung di tepi Danau Kerinci, warga langsung merasakan kaitan emosional yang melakat, seolah menghidupkan kembali masa ketika dua daerah ini masih berdiri sebagai suatu wilayah sebelum pemekaran 2008 (03/12/2025).
Setiap hentakan langkah, irama gandang, dan simbol adat memantik nostalgia yang tidak pernah padam. Walikota Sungai Penuh Alfin dan Bupati Kerinci Monadi memperkuat suasana tersebut dengan tampil berdampingan sepanjang acara. Keduanya menyapa warga, mengikuti setiap prosesi, dan menunjukkan keharmonisan yang lama dinantikan masyarakat.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa pemekaran hanya mengubah struktur administrasi, sedangkan ikatan sejarah dan budaya tetap menyatukan dua wilayah ini. Masyarakat melihat bagaimana kedekatan dua pemimpin ini membangkitkan harapan baru.
Warga terus menggambarkan hubungan Kerinci dan Sungai Penuh sebagai ikatan anak dan orang tua. Anak mungkin memilih rumah baru, namun ia tetap membawa darah dan identitas yang sama. Dengan cara yang sama, pemekaran tidak pernah memutus akar budaya dua daerah ini.
Festival ini juga mendorong masyarakat untuk percaya bahwa harmoni dua pemimpin mampu mempercepat pembangunan dan memperkuat koordinasi lintas wilayah. Mereka juga menilai kehangatan yang terpancar dari interaksi Alfin dan Monadi sebagai modal penting untuk menciptakan suasana yang lebih sejuk, stabil, dan produktif.
Pada akhirnya, Balik Kudahin bukan sekadar menghidupkan kenangan tetapi juga menyadarkan akan yang telah berlalu. Festival ini menegaskan bahwa Kerinci dan Sungai Penuh berasal dari rumpun budaya yang tidak dapat dipisahkan oleh batas administratif. Selama kedua daerah terus merawat keharmonisan itu, keduanya akan tetap tegak bersama, meski sekarang terbagi dua pemerintahan, namun tetap satu dalam sejarah, dan rasa yang tidak pernah terputus..(yum)






