Sungai Penuh, lugasline.id — Keringat dingin, terik matahari, dan kubangan lumpur yang dilalui para petani di Kabupaten Kerinci berujung petaka. Bukannya menikmati rezeki dari tanah sendiri, mereka malah dihantam dugaan penipuan dan penggelapan hasil panen secara telanjang (02/08/2026).
Kebutuhan keluarga yang digantungkan dari bulir-bulir beras sirna. Gabah sudah berpindah tangan, namun uangnya raib tanpa kejelasan.
Kedok ASN Pembeli Gabah
Sosok di balik penderitaan petani ini mengarah pada Andaris Minandar, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) aktif di Sekretariat DPRD Kota Sungai Penuh.
Status ASN dan penampilan klimis dijadikan modal utama untuk mengeruk kepercayaan korban. Para petani lugu terperangkap janji manis hingga menyerahkan seluruh hasil panen mereka. Begitu gabah dikuasai, janji tinggal janji—pembayaran menguap.
Segala daya upaya penagihan telah dilancarkan, mulai dari teror telepon hingga penggerebekan rumah pelaku. Hasilnya? Nihil. Iktikad baik sama sekali tidak tampak.
Kerusakan Sistemik & Jeritan Korban
Akibat aksi tak bertanggung jawab ini, kerugian materiil petani membengkak dan memicu krisis berantai:
- Dapur Rumah Tangga Terancam: Kebutuhan pokok sehari-hari macet total.
- Modal Tanam Lumpuh: Petani tidak punya uang sepeser pun untuk memulai musim tanam baru.
Praktik culas ini disinyalir tak hanya memangsa petani, tetapi juga menyasar kerabat dekat terduga pelaku melalui skema serupa—meski klaim ini masih memerlukan verifikasi independen.
Geram dengan segala dalih keterlambatan, salah satu korban, Ayah Abid, melempar kecaman keras:
“Kalau memang ingin membayar, jangan banyak alasan seperti anak kecil. Sakit itu bukan alasan untuk tidak membayar,” ujarnya dengan nada kesal.
Saat dikonfirmasi pada Minggu (2/8/2026), Andaris Minandar membenarkan adanya kesepakatan pembayaran dengan salah seorang penjual bernama Mama Omil.
“Tanggal 13 Agustus ini selesai,” ujarnya dilansir Explorernews.
Terkait dugaan tunggakan pembelian padi senilai Rp13 juta tersebut, Andaris tetap membantah dan mengklaim dirinya tidak berniat mengelak.
Desakan Sanksi Copot dan Tindak Tegas!
Para petani kini menuntut pelunasan instan atas hak-hak mereka yang dirampas demi menyambung hidup dan mempertahankan mata pencaharian.
Tak sekadar ganti rugi, mereka mendesak ketegangan penuh dari instansi terkait—khususnya BKPSDM Kota Sungai Penuh—untuk segera menyeret dan menjatuhkan sanksi disiplin terberat bagi oknum ASN tersebut sesuai aturan yang berlaku. (tim)






