Harga Kopi Dunia Tertekan, Petani Indonesia Akan Ikut Terdampak?

Jakarta, lugasline.id — Pergerakan harga kopi dunia kembali menjadi perhatian. Pelemahan harga di pasar internasional menimbulkan pertanyaan bagi negara produsen, termasuk Indonesia: apakah tekanan tersebut pada akhirnya akan ikut dirasakan petani kopi di dalam negeri?

 

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan penting Indonesia dan sebagian besar produksinya berasal dari perkebunan rakyat.

 

Namun, perubahan harga di pasar global tidak serta-merta membuat harga di tingkat petani Indonesia bergerak dengan arah yang sama. Ada sejumlah faktor lain yang ikut menentukan, mulai dari kualitas biji, permintaan eksportir, nilai tukar rupiah, ketersediaan pasokan, biaya distribusi hingga pola perdagangan di dalam negeri.

 

Data terbaru USDA Foreign Agricultural Service menunjukkan kondisi produksi Indonesia masih cukup kuat. Dalam laporan Desember 2025, USDA memperkirakan produksi kopi Indonesia pada musim 2025/26 mencapai 12,5 juta kantong berukuran 60 kilogram, meningkat 18 persen dibanding musim sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh perbaikan hasil panen, cuaca yang lebih mendukung, peningkatan input pertanian dan pemeliharaan kebun. (USDA Apps)

 

USDA juga mencatat bahwa petani kecil merupakan mayoritas petani kopi Indonesia dan telah memperoleh margin yang lebih tinggi dalam dua tahun terakhir seiring kenaikan harga kopi.

 

“Smallholder farmers, representing the majority of Indonesian coffee farmers, received increased margins in the last two years from higher coffee prices.” (USDA Apps)

 

Dalam terjemahan bebas, USDA menyebut petani kecil yang merupakan mayoritas petani kopi Indonesia memperoleh margin yang meningkat dalam dua tahun terakhir akibat harga kopi yang lebih tinggi.

 

Situasi tersebut menjadi penting karena harga tinggi memberikan ruang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik. Namun, ketika harga global mulai terkoreksi, ruang keuntungan tersebut juga berpotensi menyempit apabila pelemahan berlangsung dalam waktu lama.

 

Di sisi produksi, Indonesia juga memiliki karakteristik yang membuat petani cukup rentan terhadap perubahan kondisi pasar. Data USDA menunjukkan lebih dari 95 persen produksi kopi Indonesia berasal dari petani dengan lahan rata-rata sekitar satu hektare. Sumatra menyumbang sekitar 75 persen produksi kopi nasional dan kawasan selatan Sumatra didominasi Robusta. (USDA Apps)

 

Dengan struktur tersebut, perubahan kecil pada harga jual maupun biaya produksi dapat memberikan dampak yang berarti terhadap pendapatan rumah tangga petani.

 

Pada saat yang sama, Indonesia masih memiliki peluang besar dari pasar ekspor. USDA memperkirakan ekspor green bean Indonesia pada 2025/26 mencapai 7,8 juta kantong, meningkat seiring bertambahnya pasokan yang dapat diekspor dan meningkatnya permintaan internasional. Pasar utama mencakup Uni Eropa, Amerika Serikat dan Mesir. (USDA Apps)

 

Artinya, persoalan kopi Indonesia bukan hanya mengenai apakah harga dunia sedang naik atau turun. Persoalan yang lebih mendasar adalah seberapa besar nilai ekonomi dari perdagangan kopi tersebut dapat dinikmati petani.

 

Ketika petani hanya menjual biji sebagai komoditas mentah, mereka tetap memiliki keterbatasan dalam menentukan harga. Sebaliknya, peningkatan kualitas, pengolahan pascapanen, penguatan koperasi, akses pembiayaan dan perluasan pasar ekspor dapat menjadi jalan untuk meningkatkan posisi tawar petani.

 

Pelemahan harga global karena itu seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kabar buruk bagi industri kopi. Kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa ketahanan petani tidak boleh sepenuhnya bergantung pada harga komoditas dunia.

 

Sebab, ketika harga kopi dunia berubah, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka di pasar komoditas, tetapi pendapatan jutaan petani yang menggantungkan hidupnya pada secangkir kopi. (Tim)