Jambi, lugasline.id — Setiap derap kaki yang menghentak tanah seperti derap kuda tak hanya memompa semangat ribuan penonton. Di baliknya, ada lantunan syair yang mengalir lembut namun penuh hikmah, mengikat masa lalu dan masa kini masyarakat Kerinci.
Itulah esensi Rentak Kudo, kesenian tradisional yang lahir dari tanah Hamparan Rawang. Bagi masyarakat setempat, tarian ini bukan sekadar atraksi budaya, melainkan wadah nyanyian “Asuh” yang menjadi pembawa cerita, doa, dan pelajaran hidup turun-temurun.
Dendangan pengasuh yang mayoritas berasal dari Tanjung Rawang menyampaikan pantun dalam bahasa daerah yang kental. Syair-syair itu menggambarkan kisah cinta yang pilu, kerinduan akan kampung halaman, hingga kebanggaan akan leluhur yang mendirikan pusat adat di Hamparan Rawang pada zaman para Depati.
Salah satu bait yang selalu membekas di hati penonton berbunyi:
Tigeo dili, empoak tanoh rawoa. Tigeo mudik, empoak tanoh rawoa.
Bait tersebut bukan hanya pengingat sejarah, melainkan juga penegas bahwa Tanah Rawang pernah menjadi jantung peradaban dan kebudayaan Kerinci.
Menurut kajian budaya lokal, pantun Rentak Kudo sarat dengan kiasan indah. Ada metafora yang melukiskan perasaan, ada pula pesan halus tentang gotong royong, ketabahan menghadapi musim kemarau, serta syukur atas limpahan panen. Dulu, kesenian ini dihelat sebagai ritual sakral untuk memohon berkah kepada Yang Maha Kuasa. Kini, meski sering menjadi penghias pesta adat dan pernikahan, ruh spiritualnya tetap terasa.
“Rentak Kudo mengajarkan kami bahwa kekuatan bukan hanya pada hentakan kaki, tapi juga pada kebersamaan dan ingatan akan akar,” ujar salah seorang pelaku seni senior Kerinci yang masih aktif melestarikan tradisi ini.
Di tengah gempuran budaya digital dan hiburan modern, Rentak Kudo tetap bertahan. Bahkan, generasi muda mulai meliriknya kembali, baik sebagai atraksi wisata maupun sarana memperkuat identitas daerah. Para seniman dan akademisi berharap, dengan dokumentasi yang lebih baik, makna di balik setiap lagu Rentak Kudo dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Karena di setiap Rentak Kudo, bukan hanya kaki yang bergerak tapi juga hati dan ingatan yang terus berdetak.






